Suatu hari, seorang Pengacara Terkenal di Jakarta ingin melepaskan lelah dan kejenuhan dengan pergi berburu bebek di sebuah danau besar di kota kelahirannya.

Dengan menaiki sebuah sampan, sang Pengacara Top tersebut membawa sebuah senapan berangkat ke tengah danau. Dari jarak agak jauh dilihatnya seekor bebek sedang terbang, maka ditembakkanlah senapannya dan tepat mengenai sasaran. Sang bebekpun jatuhlah dan terkapar di sebuah lahan pertanian milik seorang petani tua.

Sang Pengacara berniat untuk mengambil bebek tersebut dan melompati batas pagar pertanian milik petani tua. Namun setelah masuk lahan pertanian, Si Petani Tua yang sedang berada diatas traktor, memergokinya dan berkata keras : “Hei, apa yang kamu lakukan ? “. Sang Pengacara menjawab dengan tanpa ragu dan takut : “Saya mau ambil bebek yang saya tembak itu” (sambil menunjuk bebek yang telah ditembaknya).

Si Petani Tua berkata lagi : “Ini lahan pertanian saya, kamu tidak berhak mengambil apapun yang ada di lahan pertanian ini.” Sang Pengacara membalas dengan lebih keras : “Kamu tidak tahu siapa saya ya ?! Saya ini Pengacara Terkenal di Indonesia, saya dapat menuntut kamu oleh karena bebek itu dan kamu akan kehilangan semua milik kamu termasuk lahan pertanian ini, tahu !!!!”

Si Petani Tua lalu berkata : “Apa kamu tidak tahu disini berlaku Hukum Adat TIGA PUKUL BERBALAS ?”

Sang Pengacara : “Hukum apa itu ?”

Sang Petani Tua : “Untuk menentukan siapa yang berhak atas bebek itu, Aku akan memukul kamu 3x, lalu giliran kamu memukul saya 3x, begitu seterusnya sampai ada yang menyerah, maka dia berhak mendapatkan bebek itu.”

Sang Pengacara berpikir dengan cepat, dan dia melihat bahwa Petani Tua itu tidak terlalu kuat, dia pikir pasti menang. Maka dengan penuh percaya diri Sang Pengacara menjawab : “Baik, saya setuju dengan hukum tersebut. Ayo kita mulai !”

Petani Tuapun segera turun dari traktornya, dan melakukan pukulan pertama dengan menendang kedua lutut Sang Pengacara dengan sepatu bootnya, sehingga Sang Pengacara kesakitan dan jatuh berlutut.

Pukulan kedua dilakukan Sang Petani dengan kerasnya mengenai uluhati Sang Pengacara sampai menunduk dan meringis kesakitan. Sang Pengacara sudah mau mengangkat tangan untuk menyerah tapi dia malu dan mencoba bertahan.

Kali ini pukulan ketiga mengenai dagunya, begitu keras sampai Sang Pengacarapun terjengkang dan masuk ke dalam sawah yang masih berlumpur. Hampir saja dia berpikir untuk menyerah, tapi dia segera tersadar ini kesempatan dia untuk menghajar petani tua itu. Maka diapun segera bangun dan berkata : “Nah, sekarang giliran saya !”

Si Petani Tua segera berkata : “Saya menyerah ! Kamu boleh ambil bebek itu dan pergilah !”